SUWARGA (Suara Warga) Seri 1 – Menyalakan Keberanian Perempuan Akar Rumput untuk Mengakhiri Kekerasan dan Perkawinan Anak

SUWARGA (Suara Warga) Seri 1 – Menyalakan Keberanian Perempuan Akar Rumput untuk Mengakhiri Kekerasan dan Perkawinan Anak

Jawa Timur, 9 April 2026 – Kelompok Perempuan dan Sumber-Sumber Kehidupan (KPS2K) Jawa Timur resmi meluncurkan inovasi program terbaru bertajuk SUWARGA (Suara Warga, Solusi Bersama). Program ini hadir sebagai ruang dialog inklusif bagi perempuan dan kelompok marginal di tingkat akar rumput untuk menyuarakan pengalaman mereka sekaligus mencari solusi atas persoalan sosial yang dihadapi.

Edisi perdana SUWARGA yang diselenggarakan bertepatan dengan peringatan Hari Perempuan Internasional (IWD) 2026 ini mengusung tema penting: “Berani Bicara, Akhiri Kekerasan pada Perempuan dan Perkawinan Anak”.

Lebih dari Sekadar Webinar Direktur KPS2K, Iva Hasanah, menekankan bahwa SUWARGA merupakan Program yang dirancang untuk meningkatkan kapasitas komunikasi publik perempuan akar rumput agar mampu memproduksi narasi alternatif yang menantang stereotip. “Kita ingin menghadirkan narasi yang berbasis pengalaman otentik para pemimpin perempuan di desa. Mereka adalah subjek, bukan sekadar objek berita,” ujar Iva dalam sambutannya.

Webinar ini menghadirkan delapan narasumber hebat dari berbagai desa di Kabupaten Gresik dan Kabupaten Lumajang yang berbagi kisah pengalaman mereka melalui Sekolah Perempuan.

Perjuangan perempuan dalam mewujudkan keadilan sosial dimulai dari lingkup paling personal hingga kebijakan publik. Di tingkat akar rumput, Jayatun mengawali transformasi dengan berani bernegosiasi mengenai pembagian peran domestik bersama suami, sementara Nisma secara gigih mengedukasi masyarakat untuk memutus rantai perkawinan anak demi kesehatan reproduksi. Keberanian ini meluas pada aspek perlindungan hukum, di mana Yulis tetap teguh melaporkan ketidakadilan meski menghadapi stigma dan intimidasi, serta Elisabeth Yunita Ivani yang terus mengawal advokasi kebijakan pencegahan perkawinan anak di tengah tantangan birokrasi pengadilan.

Kekuatan kolektif menjadi kunci utama dalam memastikan setiap korban kekerasan mendapatkan ruang aman dan pemulihan yang tuntas. Elis secara kreatif menggunakan seni tari sebagai media kampanye anti-kekerasan yang inklusif, sedangkan Yuli menggerakkan pos pengaduan Sekolah Perempuan untuk mendampingi kasus hukum hingga ke meja hijau. Di sisi lain, Umatus Syarifah menyoroti peran strategis perempuan sebagai aktor utama pendampingan korban di situasi krisis bencana, yang diperkuat oleh Winayah melalui pendekatan “jemput bola” Pos Pengaduan mandiri yang bersinergi langsung dengan layanan pemerintah. Melalui langkah-langkah nyata ini, perempuan membuktikan bahwa mereka bukan sekadar objek, melainkan penggerak perubahan yang tangguh.

Sesi ini diperkuat dengan tanggapan dari para ahli yang menggarisbawahi pentingnya kolaborasi. Ratna selaku Kepala UPTD PPA Kabupaten Gresik memberikan apresiasi atas keberanian para perempuan akar rumput dalam melaporkan kasus kekerasan. Beliau menjelaskan bagaimana UPTD PPA siap bersinergi dengan pos pengaduan di desa untuk memberikan pendampingan hukum, psikologis, dan perlindungan bagi korban hingga tuntas. Sinta Ristu mewakili KPS2K menekankan bahwa SUWARGA adalah bagian dari upaya memperkuat kepemimpinan perempuan melalui pendekatan GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion). Ia menegaskan pentingnya memastikan bahwa tidak ada satu pun kelompok yang tertinggal dalam proses advokasi dan pengambilan kebijakan di desa.

Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan partisipasi aktif dari peserta Zoom yang berasal dari berbagai daerah seperti Lumajang, Lombok, hingga Morotai. Beberapa poin kunci yang muncul sebagai rekomendasi adalah pentingnya dukungan pendanaan dari Dana Desa untuk keberlanjutan Pos Pengaduan, penguatan kapasitas untuk menjawab tantangan dalam menghadapi stigma sosial dan ancaman keamanan bagi pendamping kasus di lapangan dan kebutuhan akan literasi digital agar narasi perempuan akar rumput bisa menjangkau audiens yang lebih luas melalui media sosial.

Melalui SUWARGA, KPS2K mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk tidak lagi diam, melainkan terus mendukung gerakan kolektif perempuan akar rumput demi mewujudkan lingkungan yang aman dan bebas dari segala bentuk kekerasan.Suara Warga, Solusi Bersama!

Penulis: Sinta Ristu Handayani (Koordinator Program GEDSI Watch INKLUSI)

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn

Bank Mandiri

KPS2K

1420012566815