Home » Anak » Pemukulan Gong tandai tindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak sudah pada kondisi akut

Pemukulan Gong tandai tindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak sudah pada kondisi akut

Pada hari Jumat, 23 Nopember 2018 di ruang desa Kesamben Kulon Gresik dipilih sebagai puncak Hari peringatan Anti Kekerasan Terhadap Perempuan, arugumentasi tepatnya adalah desa ini merupakan rujukan untuk masyarakat yang berniat mengawinkan anaknya diusia dini pada 5 tahun yang lalu. Namun sejak sekolah perempuan diinisiasi di desa ini secara lambat laun praktek perkawinan anak mulai menurun di desa ini bahkan pihak kepala desa sudah mengambil sikap untuk tidak lagi mau memberikan rekomendasi pada anak-anak yang mau dinikahkan oleh orang tuanya.

 

Acara puncak ini dihadiri oleh ibu Maria Ulfah sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Kab.Gresik serta didampingi oleh ibu Zumrotus Sholihah sebagai ketua GOW Gresik. Dalam sambutan pembukaannya beliau menyampaikan bahwa semua lapisan masyarakat harus melakukan upaya dalam bentuk apapun untuk menghapuskan kekerasan dalam bentuk apapun baik dilingkungan keluarga maupun di masyarakat, pemerintah mulai dari desa sampai kabupaten juga mendukung semua gerakan dalam penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak salah satu wujud dari dukungan semua pihak ini adalah didirikannya Rumah Pengetahuan Perempuan yang salah satu tujuannya adalah sebagai  pos pengaduan terkait tindak kekerasan dalam bentuk apapun. Sebagai informasi di kabupaten Gresik telah didirikan rumah curhat ditiap desa namun fungsinya belum maksimal sehingga diharapkan keberadaan Rumah Pengetahuan Perempuan dapat menjadi bagian dari jaringan rumah curhat karena anggotanya yang sampai di tingkat RT dan RW.

 

Acara puncak ini dihadiri oleh sekitar 500 komunitas perempuan yang terdiri dari organisasi perempuan keagamaan yaitu Fatayat,muslimat, GOW, PKK dan anggota sekolah perempuan di kabupaten Gresik. Serta tidak ketinggalan unsur Muspika di tingkat kabupaten dan kecamatan juga turut hadir dan memberikan sambutan untuk mendukung gerakan penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak.

 

Dalam acara puncak ini juga diadakan sesi pengajian akbar bersama Mubaliqoh bu Nyai Siti Ruqoiyah Spdi dari Bondowoso, bu Nyai ini juga anggota dari NGO RAHIMA yang selama ini konsen untuk memberikan intervensi pada tokoh-tokoh agama agar mempunyai perspektif keadilan gender. Dalam tauziah yang disampaikan dengan tema Semangat Maulud Nabi Muhammad SAW untuk menghapuskan Perkawinan Anak memberikan inti sari perjalanan Muhammad di jaman jahiliya yaitu Rasulullah lahir diutus sebagai penyempurna akhlak untuk menghapus tradisi jahiliyah yang tidak berpihak pada bayi perempuan dengan mengubur hidup-hidup dan memperdagangkannya menjadi budak, beliau juga mengajarkan umatnya untuk menghormati siapapun tanpa memandang agamanya dan darimana asalnya dan yang paling penting adalah beliau berpesan bahwa agar perempuan yang akan menikah dipersiapkan secara matang baik dari sisi usia, kesehatan reproduksi, pendidikan formalnya dan mental spiritualnya sehingga dapat terlahir generasi yang berkualitas baik. Ini adalah paparan pembicara dari perempuan tokoh agama yang mengajarkan tentang pentingnya kehidupan di masyarakat yang damai, anti diskriminasi dan anti rasis serta pentingnya menyiapkan generasi muda sebagai aktor pembangunan manusia yang berkualitas demikian kesimpulan yang disampaikan oleh pemandu acara Rinta Yusna dari KPS2K Jawa Timur.

 

Sedangkan menurut Direktur KPS2K Iva Hasanah, acara ini sengaja mengambil kontek spiritual keagamaan karena salah satu faktor pelanggeng tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak adalah penafsiran agama yang bias gender, artinya yang terjadi di masyarakat banyak tokoh-tokoh agama yang memanfaatkan isi dari kitab suci untuk melegitimasi tindakan-tindakan yang tidak berpihak pada perempuan dan anak-anak, sehingga masyarakat dengan mudah menurutinya bahkan merasa yakin bahwa tindakan yang keliru tersebut menjadi benar, seperti kasus KDRT dan Perkawinan anak yang banyak menggunakan penafsiran agama yang tidak menggunakan perspektif keadilan dan kesetaraan terhadap perempuan dan anak-anak. (va).

Baca Juga

Pengibaran bendera merah putih oleh 6 ibu-ibu Sekolah Perempuan Gresik

Upacara HUT RI  Kemerdekaan ke 74, 17 Agustus 2019 di bukit Sekapuk menjadi momen yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.