Metode Pendidikan Adil Gender

Metode Pendidikan Adil Gender

MEMAHAMI RAGAM

METODE PEMBELAJARAN ALTERNATIF PADA PENDIDIKAN ADIL GENDER( 1 )

“ ROLE PLAYING TILIK BAYI”[ 1 ]

P E M I L I H A N  M E T O D E   “ T I L I K  B A Y I ”

Pertemuan pagi itu membuat mereka dapat tertawa lepas, hawa yang sejuk dari lereng Gunung Semeru menambah segar suasana pembelajaran rutin Sekolah Perempuan di Desa Oro-Oro Ombo Pronojiwo Lumajang. Sekolah Perempuan Desa Oro-Oro Ombo dibentuk tahun 2022 dengan jumlah anggota lebih dari 30 orang. 80 persen dari anggotanya adalah perempuan yang masih dikategorikan keluarga miskin, Pendidikan tertinggi SMP dan menikah diusia anak- anak[2].

Metode yang dipakai kali ini adalah bermain peran “Tilik Bayi”. Dalam Bahasa Indonesia diartikan menjenguk bayi baru lahir yang merupakan tradisi masyarakat khususnya di Jawa. Lumrahnya mereka menjenguk bayi sambil membawa hadiah/bingkisan/hampers kalau istilah saat ini. Selain itu penjenguk selalu menyelipkan pesan, doa atau harapan yang disampaikan bagi si bayi di masa depannya.

Sebelumnya tim fasilitator telah melakukan asesmen yang bertujuan untuk penyusunan modul pembelajaran di Sekolah Perempuan. Salah satu metode pembelajaran yang dipilih adalah “Tilik Bayi” untuk sesi pengenalan konsep seks dan gender. Dari banyak metode alternatif, role playing ini dirasa mudah dipahami oleh para peserta yang hidup dalam tradisi Jawa bercampur Madura. Sehingga diasumsikan peserta tidak akan mengalami kesulitan dalam memainkan peran-perannya.

P R O S E S  P E M B E L A J A R A N.

Untuk memulai bermain peran ini, tahap awal fasilitator menjelaskan tujuan dan aturan mainnya. Karena metode ini dipakai sebagai cara untuk memahami pengertian konsep gender dan seks, maka peserta diharapkan pada akhir pertemuan dapat mengerti tentang beberapa hal yaitu [3]:

  1. Memahami dan menginternalisir pengertian seks (jenis kelamin biologis) dan gender (jenis kelamin sosial).
  2. Memahami bahwa konsep gender dapat berubah sesuai dengan konteks waktu, tempat dan
  3. Memahami konsep   gender    yang    berkembang    dalam masyarakat

Tahap berikutnya adalah para peserta mempersiapkan diri sesuai dengan peran yang akan dilakoninya. Bagi empat orang yang berperan sebagai pasangan suami istri dari bayi laki-laki dan perempuan harus berdandan mendekati layaknya laki-laki dan perempuan yang baru saja melahirkan. Kostum suami biasanya mengenakan sarung, kopyah serta membuat kumis dan jambang. Untuk yang istri mengenakan selendang sambil menggendong boneka bayi yang sudah disiapkan. Sedangkan peserta lainnya dipersilahkan membagi kelompok yang akan berkunjung ke bayi laki-laki atau perempuan. Bagi penjenguk bayi juga disediakan beberapa barang- barang yang bebas dipilih untuk dibawa sebagai hantaran seperti baju bayi dan kertas kado warna – warni dengan motif yang beragam, mainan anak-anak. Biasanya secara tidak disadari peserta memilih mainan boneka, masak-masakan dan baju dengan motif bunga-bunga warna pink yang menurut mereka cocok bagi bayi perempuan, begitu pula peserta yang menjenguk bayi lak-laki kebanyakan memilih mainan senjata, mobil- mobilan dan baju motif binatang warna biru.

Kemudian tahap permainan dimulai, kelompok penjenguk bayi laki-laki/perempuan saling bergantian bermain, fasilitator dalam hal ini dapat menjadi pengarah maupun pengamat selama permainan berlangsung. Kita akan menemukan ada perbedaan   pesan   yang   ditulis   peserta, misalnya untuk bayi perempuan mereka menuliskan antara lain “Menjadi perempuan yang sholehah, cantik, patuh pada orang tua, pintar masak.” Sedangkan untuk bayi laki-laki pesan yang disampaikan lebih maskulin, yaitu “Semoga menjadi imam bagi keluarga, gagah, punya uang banyak, dan seterusnya.” Sesi ini yang paling menyenangkan karena semua peserta dibebaskan mengeksplorasi diri terutama ketika mereka berakting menjenguk bayi. Terutama ketika menyampaikan percakapan saat bertemu pasangan suami istri yang memiliki bayi. Sering juga mereka saling membalas candaan yang kemudian disambung dengan gelak tawa peserta yang lain. Mereka dibebaskan menggunakan Bahasa daerah dalam percakapan jika dirasa kurang percaya diri menggunakan Bahasa Indonesia. Begitu seterusnya sampai semua peserta tidak ada yang tertinggal dalam permainan ini, meskipun ada peserta yang masih malu-malu, fasilitator harus mampu memotivasinya agar terus terlibat. Setelah permainan selesai jangan lupa mengajak seluruh peserta untuk foto bersama sehingga ada kesan buat mereka.

E V A L U A S I

Tahap berikutnya adalah mengevaluasi seluruh proses permainan diawali dengan menanyakan ke peserta bagaimana kesan mereka setelah bermain peran. Peserta menceritakan kesannya, seperti sangat senang meski tradisi menjenguk bayi dianggap sudah biasa. Namun menurut mereka ada pengalaman baru, yaitu pertama bermain peran seperti akting. Yang sebenarnya timbul rasa malu karena merasa ditonton oleh peserta lainnya. Rasa malu ini yang harus mereka lawan agar dapat melakoni perannya dengan baik meski tidak sering teman-teman lainnya ada yang menertawakan atau melontarkan bercandaan sampai ada perasaan grogi. Evaluasi ini penting agar peserta mendapatkan pembelajaran dari pengalaman bermain peran, terutama untuk meningkatkan kepercayaan diri perempuan ketika nantinya akan menjadi leader dan berperan di ranah publik yang strategis.

D I S K U S I   M A T E R I

Dari evaluasi inilah kemudian fasilitator memulai materinya yaitu mengenalkan konsep gender pada peserta pembelajaran. Fasilitator dapat menyiapkan beberapa poin pertanyaan kunci untuk merangsang pikiran kritis peserta berdasarkan apa yang dimainkan sebelumnya, antara lain:

  1. Mengapa ada pembedaan ketika memilih warna kertas kado pada bingkisan bayi laki-laki dan perempuan.
  2. Mengapa anak perempuan diberikan pesan yang cenderung ke ranah domestifikasi dan kepatuhan atau lebih cenderung menginginkan sifat yang
  3. Mengapa anak laki-laki diberikan pesan yang sebaliknya lebih maskulin, diharapkan menjadi pemimpin dan memiliki kerja-kerja produktif seperti berprofesi di ruang publik.

Sambil membaca kertas metaplan yang dituliskan peserta, fasilitator dapat mengajak peserta untuk mendiskusikan jawaban dan mengapa terjadi pembedaan berdasarkan jenis kelamin manusia dalam permainan ini yang dimulai dari bayi. Dengan menunjukkan boneka bayi laki-laki dan perempuan maka fasilitator dapat menjelaskan apa pengertian seks atau jenis kelamin biologis.

Bantuan visualisasi boneka bayi ini dapat lebih memudahkan bagi peserta untuk memahami ciri-ciri seks itu sendiri yang dimulai dengan menunjukkan alat kelamin yang nampak sampai ciri-ciri didalam tubuh yang tak nampak. Sedangkan pilihan-pilihan kado peserta dan ungkapan pesan digunakan untuk mendorong kekritisan peserta terkait alasan adanya pembedaan jenis kelamin yang dibuat oleh masyarakat sejak manusia lahir sampai mati. Yang mana pembedaan ini dikontruksikan oleh waktu, tempat dan budaya dimana manusia tersebut bertempat tinggal.

Dengan runtun fasilitator dapat menjelaskan pembedaan tersebut berdasarkan kategorisasi sifat/ciri-ciri yang ideal yang diinginkan oleh masyarakat setempat. Begitu juga menempatkan manusia laki-laki dan perempuan pada ruang domestik dan publik sampai harapan ideal masyarakat pada mereka. Tahapan ini diproses dengan partisipatif sehingga setiap peserta diupayakan mendapatkan kesempatan mengeluarkan pendapat, menyampaikan pertanyaan maupun memberikan jawaban bahkan sanggahan ketika apa yang disampaikan oleh fasilitator tidak disetujui oleh peserta.

Materi pengertian seks dan gender, dapat ditutup dengan kesimpulan yang disampaikan oleh fasilitator seperti tujuan yang disampaikan diawal. Akan lebih baik jika fasilitator dapat menyampaikan narasi yang dapat mengkaitkan pesan dari permainan peran dan konsep yang lebih teoritis. Dan tahap ini dapat dikatakan sebagai sesi penutupan, dan fasilitator dapat memberikan kesempatan pada peserta untuk rileks dengan mengajak bernyanyi bersama dengan lagu yang disepakati. Mengapa ini menjadi penting, karena biasanya peserta mengalami ketegangan dalam berpikir ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa apa yang dialami selama ini masih bisa diperdebatkan, terutama harus dapat menerima bahwa perempuan menjadi tidak diuntungkan karena jenis kelaminnya adalah kontruksi manusia melalui budaya/tradisi yang sudah sangat lama.

D E F I N I S I   ” R O L E   P L A Y I N G”

Dari mengimplementasikan metode Role Playing diatas, kita telah mendapatkan banyak sekali pengalaman yang penting terutama dalam mengembangkan model Pendidikan alternatif. Jika merujuk pada beberapa sumber, maka definisi dan pengertian metode pembelajaran bermain peran sebagai berikut [4]:

  • Menurut     Santoso     (2011),     bermain     peran     adalah mendramatisasikan dan mengekspresikan tingkah laku, ungkapan, gerak-gerik seseorang dalam hubungan sosial antar manusia. Dengan metode Role Playing (bermain peran) siswa berperan atau memainkan peranan dalam dramatisasi masalah/psikologis itu.
  • Menurut Wahab (2009), bermain peran adalah berakting sesuai dengan peran yang telah ditentukan terlebih dahulu untuk tujuan-tujuan tertentu. Bermain peran dapat menciptakan situasi belajar yang berdasarkan pada pengalaman dan menekankan dimensi tempat dan waktu sebagai bagian dari materi pelajaran.
  • Menurut    Mulyono    (2012),    role    playing    atau bermain peran adalah metode pembelajaran yang diarahkan untuk mengkreasi peristiwa sejarah, peristiwa aktual, atau kejadian-kejadian yang mungkin muncul pada masa mendatang.
  • Menurut Yamin (2007), bermain peran adalah metode yang meletakkan interalisasi antara dua siswa atau lebih tentang suatu topik atau situasi. Siswa melakukan peran masing-masing sesuai dengan pokok yang ia yakini. Mereka berinteraksi dengan sesama peran secara terbuka. Metode ini dapat dipergunakan dalam mempraktikkan pelajaran yang baru.

Sedangkan dari bermain peran atau role playing “Tilik Bayi” ini dapat diartikan bahwa sebuah metode pembelajaran yang mengharuskan para peserta berperilaku pura-pura (acting) sesuai dengan peran yang telah disepakati bersama dalam kelompok tersebut. Sedapat mungkin para peserta mampu menirukan situasi atau perilaku dari tokoh-tokohnya dengan tujuan untuk mengekspresikan dan mendramatisasikan dalam bentuk tingkah laku, ungkapan, gerak-gerik seseorang dalam relasi antar manusia terutama berdasarkan gendernya dan budaya yang menjadi tema permainannya.

Metode bermain peran juga dapat menimbulkan pengalaman belajar, kemampuan bekerjasama, berdialog, komunikasi dan menginterpretasikan suatu kejadian atau situasi tertentu. Melalui metode bermain peran para peserta diharapkan dapat mencoba mengeksplorasi relasi-relasi antar manusia dengan memperagakan dan mendiskusikan. Dengan kata lain dapat mewadahi dan mengungkapkan perasaaan, sikap, nilai-nilai serta situasi yang ada.

Model bermain peran penekanannya ada pada keterlibatan emosial dan pengamatan indera ke dalam suatu masalah yang secara realitas dihadapi peserta. Sebagai prinsip Pendidikan alternatif adalah peserta sebagai subyek pembelajaran, secara aktif melakukan praktik- praktik komunikasi dalam bentuk berbahasa berupa bertanya dan menjawab (berdialog) bersama peserta lainnya pada situasi tertentu.

A S P E K  D A N   T U J U A N

Aspek – aspek bermain peran, setidaknya dapat ditemukan adanya tiga aspek yaitu:

  1. Mengambil peran (Role Playing), yaitu tekanan ekspektasi-ekspektasi sosial terhadap pemeran Contohnya adalah pada hubungan keluarga (apa yang harus dikerjakan suami istri ketika memiliki bayi laki-laki dan perempuan), atau berdasarkan peran sosial (bagaimana para tetangga menjenguk dengan membawa kado atau menyampaikan pesannya).
  2. Membuat peran (Role Marking), yaitu kemampuan pemegang peran untuk berubah secara dramatis dari satu peran ke peran yang lain dan menciptakan serta memodifikasi peran sewaktu-waktu (Jika ada keterbatasan jumlah peserta sehingga harus berperan ganda)
  3. Tawar-menawar peran (Role Negotitation), yaitu tingkat dimana peran-peran dinegosiasikan dengan pemegang- pemegang peran yang lain dalam parameter dan hambatan interaksi sosial.

Sedangkan menurut Saefuddin dan Berdiati (2014)      dan      Santoso     (2011),      metode pembelajaran bermain peran memiliki tujuan agar peserta dapat menyampaikan:

  1. Pengalaman konkret dari apa yang telah
  2. Mengilustrasikan prinsip-prinsip      dari       materi
  3. Menumbuhkan kepekaan    terhadap     masalah- masalah hubungan
  4. Menumbuhkan minat      dan      motivasi     belajar siswa/peserta.
  5. Menyediakan sarana     untuk     mengekspresikan perasaan yang tersembunyi dibalik suatu
  6. Memahami perasaan orang
  7. Menempatkan diri dari situasi orang
  8. Mengerti dan menghargai perbedaan

K E U N G G U L A N  M E T O D E

Kelebihan atau keunggulan menggunakan metode bermain peran adalah sebagai berikut:

  1. Dapat berkesan dengan kuat dan tahan lama dalam ingatan siswa/peserta, di samping menjadi pengalaman yang menyenangkan juga memberi pengetahuan yang melekat dalam memori
  2. Sangat menarik bagi siswa/peserta, sehingga memungkinkan membuat kelas menjadi dinamis dan
  3. Membangkitkan gairah dan semangat optimisme dalam diri siswa/peserta serta menumbuhkan rasa
  4. Siswa/peserta dapat langsung untuk memerankan sesuatu yang akan dibahas dalam proses belajar

P E M B E L A J A R A N   M E T O D E   R O L E P L A Y I N G ” T I L I K   B A Y I “

Dari pengalaman menggunakan metode Role Playing “Tilik Bayi” diatas dapat disimpulkan bahwa sebuah metode ini dapat dipakai sebagai cara yang tepat, jika memenuhi setidaknya ada 4 komponen, yaitu:

  1. Data atau informasi yang relevan untuk dapat memilih budaya/tradisi yang dapat dijadikan Sebagai tema dalam permainan.
  2. Kapasitas fasilitator yang telah memahami konsep gender dan memiliki kemampuan dalam menfasilitasi metode lain pada pembelajaran gender di komunitas.
  3. Perlengkapan pembelajaran seperti property untuk bermain peran yang harus dipersiapkan dengan waktu yang cukup dan disesuaikan dengan tema permainan yang telah
  4. Peserta yang tepat, dipilih melalui proses asesmen secara intensif sebelum tema permainan ditentukan, terutama untuk mengenal budaya/tradisi patriarki yang ada di lingkungan tempat tinggal.

Sebagai penutup dari tulisan ini, saya sampaikan catatan penting terkait tantangan dari penggunaan metode bermain peran, kurang lebihnya sebagai berikut:

  1. Role playing memerlukan waktu yang relatif panjang/banyak.
  2. Memerlukan kreativitas dan daya kreasi yang tinggi dari fasilitator maupun
  3. Kebanyakan peserta yang ditunjuk sebagai pemeran merasa malu untuk memerankan suatu adegan
  4. Apabila pelaksanaan role playing atau bermain peran mengalami kegagalan, bukan saja dapat memberi kesan kurang baik, tetapi sekaligus berarti tujuan pembelajaran tidak
  5. Tidak semua materi pelajaran dapat disajikan melalui metode
  6. Tema yang dipilih pada metode ini harus relevan dengan kontek budaya/tradisi

Saya berharap tulisan ini dapat membantu pembaca untuk lebih memahami dalam mengimplementasikan metode Role Playing pada pembelajaran konsep gender yang dilakukan untuk kelompok perempuan di akar rumput. Penulis: Iva Hasanah[5].

 


  1. [1] Metode bermain peran “Tilik Bayi” ini adalah bagian dari salah satu sesi “Gender” Pada “Modul Pendidikan Adil Gender Untuk Komunitas” yang dituliskan sekaligus diterbitkan oleh Perkumpulan KAPAL Perempuan 2006. Organisasi perempuan Kelompok Perempuan dan Sumber-Sumber Kehidupan (KPS2K) adalah mitra dari KAPAL Perempuan di Jawa Timur. KPS2K berkolaborasi dengan KAPAL Perempuan telah mengembangkan Pendidikan Adil Gender pada komunitas Sekolah Perempuan di kabupaten Gresik sejak tahun 2013 dan direplikasi di Lumajang sejak tahun 2022.
  2. [2] Sekolah Perempuan di Lumajang dibentuk tahun 2022 yang berkontek pada situasi.
  3. [3] Modul Pendidikan Adil Gender Untuk Perempuan Marginal diterbitkan oleh KAPAL Perempuan 2006.
  4. [4] Riadi,  Muchlisin.   (2019).   Model   Pembelajaran   Bermain   Peran   (Role   Playing).   Diakses   pada   1/6/2023,   dari https://www.kajianpustaka.com/2019/05/model-pembelajaran-bermain-peran-role-playing.htm
  5. [5] Penulis adalah aktivis perempuan, penggiat Pendidikan alternatif dan saat ini sebagai Direktur KPS2K

Share:

Facebook
Twitter
Pinterest
LinkedIn

Kantor

Perumahan Rezan’na Regency No. 32

Anggaswangi, Kec. Sukodono

Kab.Sidoarjo 61258, Jawa Timur 61258

© 2014 – 2023 Kelompok Perempuan dan Sumber-Sumber Kehidupan

Bank Mandiri

KPS2K

1420005411094