Home » Perempuan » Orasi Pendidikan Hari Kartini Institut KAPAL Perempuan 2021

Orasi Pendidikan Hari Kartini Institut KAPAL Perempuan 2021

oleh Iva Hasanah

Aku  selalu bingung ketika ingin memanggil Kartini tiap tahunnya tetap Ibu, Raden Ajeng, Kakak, Nenek, atau siapa?…Tapi aku ingat ketika Pramudya Ananta Toer menulis buku“Panggil Saja Aku Kartini,”mungkin ini panggilan sayang yang membahagiakan Kartinikarena ia ingin dianggap setara.

Kartini dan Pendidikan, mungkin ini tidak asing bagi kita semua………

Tapi jika Kartini dan Pendidikan Kritis Adil Gender mungkin banyak yang mengernyitkan dahinya. Mungkin ekspresi initanda sedang berpikir karena tidak tahu atau jarang diulas.

Aku tertarik dengan deretan kata yang ada dalam surat-surat Kartini seperti kalimat ini, “Seorang guru bukan hanya sebagai pengasah pikiran saja, melainkan juga pendidik budi pekerti, Tetapi apalah artinya pandai dalam ilmu yang hendak diajarkan itu, apabila ia tidak dapat menerangkannya secara jelas kepada murid-murid.

Jika Dia masih hidup, tentu ada banyak kesempatan bertanyabahkan mendebatnya, syukurnya kita masih diwarisi kecerdasannya melalui tulisannya, bakatnya menulis sungguh membantu perjuangan kita saat ini. Jadi dapatlah aku benang merahnya jika punya ilmu banyak cobalah menuangkan dalam tulisan, kira-kira begitu menurutku.

Perempuan ini, memberikan makna pendidikan yang amat luas dan dalam, luas karena tidak hanya mengusik pendidikan sebagai sebuah sistem yang menghadirkan kepragmatisan dan target kelulusan saja.

Pemikiran Kartini yang mendalam justru menyampaikan pesan atas filosofi Pendidikan yang maha dasyat. Pendidikan yang melintas batas,Pendidikan baginya adalah sebuah pembebasan dari sebuah tirani. Tirani yng tercipta karena kelas sosial ekonomi,“Antara aku bangsawan dan kau adalah rakyat jelata.”

Mengajari tentang apa itu politik identitas berwajah Suku dan Ras, “Karena aku orang Jawa pribumi dan kau orang kulit putih yang bisa semaunya menindas.”

Dan sebuah pemberontakan yang terkurung dalam tembok kokoh, “Hanya karenaaku perempuan dan kau begitu bebas karena menjadi laki-laki.”

Pendidikan bagi Kartini menjadi sebuah media untuk meregenarasi budi pekerti, ooh ternyata budi pekerti,  empati itu tidak hadir begitu saja seperti kodrat, tapi sebuah proses yang harus diupayakan dan dirawat terus menerus. “Dan terhadap pendidikan itu janganlah hanya akal yang dipertajam, tetapi budi pun harus dipertinggi,”  begitu kutipan dari suratnya yang penuh kritik yang dalam.

Kartini buat aku adalah sosok feminis lintas aliran, sebagai perempuan yang dilahirkan tepat di tanah airnya yang terjajah. Diusia yang belia dia hadirkan sekolah perempuan yang memecahkan dinding-dinding kaca bentukan budaya Patriarki.

Makanya dia lantang mengatakan, “Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya.

Kartini memberikan banyak pelajaran tentang Pendidikan kritis adil gender, yang saat ini sangat dibutuhkan kehadirannya. Bagi para perempuan yang masih terbatasi karena kondisi geografisnya,  mereka yang masih berdiam di lereng gunung, pulau-pulau, pemukiman kumuh, dan dimanapun tempatnya. Bagi mereka yang masih berjibaku dengan sistem yang tak berpiihak serta budaya Patriarki yang masih harus dipanuti, serta ajaran agama yang sering kali menakut-nakuti perempuan dengan nerakanya.

Tapi ada kabar baik untuk Kartini, saat ini ada banyak sekolah perempuan seperti yang dia pikirkan dan idam-idamkan, telah lahir dan sedang bertumbuh dari ujung Barat dan Timur Indonesia, saat ini mereka sudah pintar mendobrak tirani yang dulu pernah dirasakan Kartini.

Masa pandemi ini memberikan situasi yang istimewa bagiku, untuk bisa merasakan betapa tidak enaknya dan terbatasinya ragawi ini, betapa kalutnya hati tidak dapat bercengkerama dengan kawan satu ideologi dan bergaul dengan para kolega.

Tapi akumasih beruntung masih ada dunia lain yang bisa diarungi dan dijelajah meski itu hanya perjumpaan sebatas ukuran pas photo KTP, tentu ini tak seberapa pedih jika dibanding penderitaannya saat itu.

Terima kasih Kartini, mungkin raganya sudah tak bersama kita, namun jejak-jejak pikirannya yang cerdas seakan tak habis untuk jadikan amunisi melawan ketidakadilan gender yang masih tumbuh diabad ini.

Ditulis beberapa menit setelah berhasil mendapatkan suntikan vaksin C-19, Kamis, 22 April 2021, Sidoarjo dipukul 13.15 WIB

Baca Juga

Penguatan Kapasitas Tim Pemantau Komunitas untuk Pemantauan Kartu Gresik Sehat (KGS)

48 orang Tim Pemantau Komunitas  dari 13 desa di 5 kecamatan di Kabupaten Gresik telah …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.