Home » Perempuan » International Women’s Day: Para Pekerja Rumah Tangga Se-Tanah Air, Bersatulah!

International Women’s Day: Para Pekerja Rumah Tangga Se-Tanah Air, Bersatulah!

Peringatan International Women’s Day atau di Indonesia dikenal sebagai Hari Perempuan Internasional, kiranya akan mampu menjadi titik awal kebangkitan perempuan untuk lepas dari belenggu patriarki. Bersamaan dengan itu, suara sayup kaum perempuan yang saat ini mengalami ketertindasan juga wajib untuk turut dipropagandakan. Kasus PRT yang bekerja di Indonesia dan luar negeri, adalah salah satu kasus yang urgent bagi kaum perempuan saat ini. Kasus kekerasan, diskriminasi, dan tak kunjung hadirnya pemerintah dalam tragedi ‘dehumanisasi’ yang dialami oleh para kaum PRT, seolah menjadi cambuk semangat bagi para pejuang kaum perempuan dan laki-laki yang tergabung dalam “Aliansi Perempuan Jawa Timur” untuk melakukan aksi memperjuangkan hilangnya hak-hak kaum perempuan.

Tepat pada hari Minggu, tanggal 8 Maret 2015, aliansi yang terbentuk dari beberapa organisasi yaitu KPS2K, Pusham UBAYA, Savy Amira, dan KPPD, melaksanakan aksi dengan mengusung tema “Perempuan Bergerak, Berorganisasi, Lawan Diskriminasi, Kekerasan, dan Sadar akan Hak Perlindungan Sosial” di acara car free day (CFD) Taman Bungkul Surabaya. Mengawali aksi pada pukul 08.00 WIB, dengan melakukan march sepanjang ±500m dari masjid Al-Falah menuju lokasi aksi, para peserta aksi nampak semangat dengan menyanyikan yel-yel perjuangan sembari mengangkat poster yang menyuarakan keberpihakannya akan kekerasan dan diskriminasi pada kaum perempuan, khususnya para PRT. Ditengah aksi pun, aliansi pun juga bergabung dengan kelompok aksi dari mahasiswa FMN (Front Mahasiswa Nasional) yang menambah gelombang semangat perjuangan di hari perempuan internasional tersebut.

Aksi ini, dihadiri sekitar 51 masa aksi yang terdiri dari perempuan dan laki-laki. Selain, mengkampanyekan hak-hak perempuan dan PRT, aksi ini juga menyajikan pertunjukkan teatrikal yang menggambarkan betapa terbelenggunya perempuan miskin, yang semakin lama semakin tertindas oleh budaya maskulin (kekerasan), kemiskinan, dan ketidakberpihakan pemerintah yang dimanifestasikan melalui melejitnya barang kebutuhan sehari-hari. Selain itu, terdapat petisi yang ditandatangani oleh masyarakat peserta CFD, sebagai bentuk partisipasi melawan segala bentu, kekerasan, diskriminasi, dan pemiskinan kaum perempuan.

Acara peringatan hari perempuan internasional ini, kemudian diakhiri pada pukul 09.30 WIB. Dimana, para massa aksi kemudian kembali melakukan march, menuju ke lokasi awal mereka berangkat, dan mengakhiri aksi tersebut.(fd)

Baca Juga

Pengibaran bendera merah putih oleh 6 ibu-ibu Sekolah Perempuan Gresik

Upacara HUT RI  Kemerdekaan ke 74, 17 Agustus 2019 di bukit Sekapuk menjadi momen yang …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.