Home » Anak » PRA SEBAGAI UPAYA PENGENTASAN KEMISKINAN KAUM PEREMPUAN

PRA SEBAGAI UPAYA PENGENTASAN KEMISKINAN KAUM PEREMPUAN

Sebagai salah satu model pendataan yang partisipatif, tentu PRA hadir sebagai jawaban atas model pendataan yang selama ini bersifat arbitrer, teknokratis, dan top-down. Dimana, metode pendataan yang seringkali dilakukan selama ini, berimplikasi pada permasalahan ketidaktepatan sasaran program perlindungan sosial. Masyarakat yang berada di tingkatan basis, hampir tidak pernah diberikan ruang yang adil untuk menentukan kriteria kemiskinan di daerah mereka. Akibatnya, kriteria kemiskinan umum, gagal untuk mengidentifikasi kemiskinan di ruang-ruang lokal. Untuk itu memang sangat diperlukan sebuah metode pendataan yang mampu mengikutsertakan dan memberdayakan tiap elemen masyarakat, guna menentukan pembangunan sesuai dengan wawasan lokal masing-masing.

Kegiatan PRA (Participatory Rural Appraisal) atau juga disebut sebagai pendataan partisipatif telah dilakukan selama enam hari di Balai Desa Kesamben Kulon. Acara yang dilaksanakan sejak tanggal 11 Mei – 16 Mei 2015 ini melibatkan multi pihak Desa, baik dari pemerintahan desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan perempuan miskin. Kegiatan pendataan yang dilakukan ini, telah menghasilkan pelbagai data alternatif melalui beberapa alat PRA, diantaranya adalah: Transek; Aktivitas Harian; Kalender Musim; Ranking Sosial-Ekonomi; Pemetaan Partisipatif; Ranking Masalah; dan Diagram Venn.

PRA, dilakukan untuk mengetahui persebaran kemiskinan, kondisi desa, pemetaan permasalahan, hingga menakar sejauh mana fungsi kelembagaan desa yang ada disana. Berlandaskan dengan ini pula, harapan untuk semakin meningkatkan peran dan partisipasi kaum perempuan miskin yang selama ini selalu terpinggirkan dalam setiap kegiatan-kegiatan di Desa bisa teratasi. Tidak hanya itu, melalui PRA masyarakat juga diajak untuk lebih mengenal lebih dalam persoalan-persoalan di Desa mereka sendiri, sebelum mereka menentukan metode penyelesaiannya.

Hasil yang didapatkan melalui PRA menunjukkan bahwa masih banyak permasalahan feminisasi kemiskinan yang terjadi di Desa Kesamben Kulon, seperti angka perempuan putus sekolah yang tinggi, masih adanya perempuan buta aksara, kemiskinan perempuan kepala keluarga, ketimpangan upah antara laki-laki dan perempuan, pernikahan dini, kurangnya fungsi manfaat dari beberapa lembaga di Desa, dan lain sebagainya. Hasil dari PRA ini, juga bisa dipergunakan untuk memperkaya profil Desa Kesamben Kulon yang masih belum mencakup permasalahan-permasalahan khusus perempuan. (fd)

Baca Juga

Penganugerahan Champion daerah

Penganugerahan Champion daerah untuk pencegahan perkawinan anakkategori Organisasi Masyarakatkepada Kelompok Perempuan dan Sumber-sumber Kehidupan (KPS2K) …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.